Motif Batik Kawung Semar

Menurut klasifikasinya, batik kawung termasuk dalam kelompok corak geometris yang ciri-ciri motifnya mudah ditata, terbagi menjadi motif atau corak lengkap dan lengkap. Dilihat dari pengertian bentuknya, motif batik kawung merupakan motif batik yang terdiri dari bentuk bulat lonjong atau elips, susunannya memanjang sesuai dengan kemiringan diagonal kiri dan kanan secara bergantian dan disusun berulang-ulang.

Salah satu penyebabnya adalah modifikasi motif kawung yaitu motif ceplok. Motif ini dikaitkan dengan kepercayaan Jawa (kejawen), yaitu pengakuan atas kekuatan yang mengatur alam semesta. Di sini raja dianggap sebagai perwujudan para dewa, dan dalam menjalankan pemerintahan raja ia dikelilingi oleh asistennya, bupati. Orang jawa mengartikannya sebagai “panci limo kiblat empat”. Empat motif bulat yang merupakan simbol persaudaraan dan empat motif tokoh dan titik sentral dianggap sebagai pusat kekuatan universal.

Dengan demikian motif batik wanita kawung yang terdiri dari empat lingkaran lonjong dengan titik tengahnya merupakan simbol persatuan seluruh umat manusia, alam dan kepercayaan serta memadukan kedelapan unsur tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis. Selanjutnya adalah ketetapan rakyat untuk mengabdi pada raja atau ratu, karena raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang merupakan pusat kekuasaan di dunia.

Pada batik kawik ​​pewarnaan tidak terpacu pada tiga warna seperti (coklat, putih dan hitam atau biru) tetapi berdasarkan bentuk filosofisnya. Ini secara khusus terkait dengan setiap arah mata angin yang memiliki simbol “ajaib” warna berikut:

  1. Warna putih melambangkan kejujuran (mutmainah) dan ketimuran. Arah timur berarti sumber energi yang penting, karena ke arah mana matahari terbit.
  2. Warna hitam melambangkan angkara (lauwamah) dari utara. Utara memiliki arti kematian.
  3. Warna kuning melambangkan karakter baik (supiah) dari barat. Arah barat menunjukkan sumber energi yang menurun, karena itu adalah tempat matahari terbenam.
  4. Simbol kemarahan (amarah) merah dari selatan. Selatan berarti puncak dari segalanya, terhubung ke atas.

Dengan kata lain dijelaskan bahwa warna merah adalah keberanian dan semangat yang tinggi. Putih itu murni, bersih dan jujur. Hitam itu tenang, tegas dan damai, dan kuning cerah. Pada dasarnya batik klasik dapat menunjukkan tanda pada seseorang tentang statusnya. Dalam batik kawik ​​tanda merupakan representasi dari suatu corak dan warna yang mengandung makna filosofis. Oleh karena itu, untuk mengetahui peran semiotika dalam batik kawung perlu dilakukan kajian berdasarkan aspek-aspek yang terdapat pada tiga relasi yaitu objek, media dan interpretasi.

Obyek

Dalam batik kawung terdapat aspek simbolik, yaitu sistem tanda yang mengarah pada pemahaman yang terkait dengan kaidah tertentu pada masa itu. Lambang dalam batik kawik ​​dapat diartikan sebagai suatu bentuk yang memiliki tujuan tertentu dalam mengungkapkan yang tidak kasat mata. Maksud dan tujuan pembuatan corak pada batik kawung dilandasi oleh adanya “sense of growth” (sujud), mendidik masyarakat untuk sabar, penuh perhatian, teliti, tekun dan berbuat baik.

Media

Dalam batik kawung terdapat aspek tanda kualitatif, yaitu aspek kualitas fisik dari corak kawung dan warnanya serta bahan yang digunakan. Makna motif batik kawung didasarkan pada telapak tangan yang buahnya disebut “kolang-kaling” dan bunga teratai yang memiliki empat oval bulat ditambah titik di tengah sebagai pusatnya. Warnanya terdiri dari tiga warna yaitu putih yang artinya kejujuran, coklat yang artinya kesabaran dan wedel biru yang artinya keluhuran. Bahannya terbuat dari pasak halus seperti kain sinjangan yang dalam bahasa jawa disebut jarit.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *